Rasulullah SAW Bermuamalah dengan Manusia Berdasarkan Tabiat Mereka

Allah SWT telah membagi-bagi akhlak sebagaimana Allah membagi-bagi rezeki. Di antara manusia ada yang berakhlak menyenangkan, mudah berlapang dada, bermurah hati, dan wajahnya selalu berseri-seri. Namun, ada sebagian manusia yang buruk akhlaknya, tabiatnya keras, wataknya susah, pergaulannya keras, seolah-olah orang tersebut potongan dari batu yang keras.


tabiat


Beragam Watak Manusia


Di antara manusia ada yang ramah dan mudah bergaul. Bergaul dengannya menyenangkan, jika ditemui selalu menyenangkan, dia seolah-olah keluarga yang menebar harum dan perhiasan dalam berteman. 


Di antara manusia ada yang tidak ramah dan tidak mudah bergaul: kemunculannya tidak pernah diharapkan, jiwanya berat, jika berbicara atau bertemu mendatangkan kehinaan. 


Rasulullah SAW bersabda: "Kalian dapati manusia seakan-akan barang tambang."


Imam al-Qurthubi memberi keterangan tentang hadits tersebut, “Sisi kesamaannya adalah karena barang tambang mengandung berbagai benda yang berbeda-beda, ada yang berharga, ada pula yang berupa barang remeh. Dan segala yang ditambang mengeluarkan apa yang ada di dasarnya. Begitu pula manusia, setiap orang dari mereka menampakkan apa yang ada pada dalam diri mereka.” 


Rasulullah SAW juga bersabda:


“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari satu genggaman seluruh jenis tanah, darinya muncul anak-anak Adam sesuai dengan jenis tanah. Ada yang lahir dengan kulit berwarna putih, ada yang merah, ada yang hitam, dan ada yang di antara warna tersebut. Ada yang buruk dan ada yang baik, ada yang mudah dan ada yang susah, dan ada yang di antaranya.” 


Dalam sebuah hadits yang lain, diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: 

 

"Sesungguhnya di antara mereka ada yang lambat marahnya namun cepat menunaikan hak, di antara mereka ada yang cepat marah dan cepat pula menunaikan hak, maka seimbang, ada di antara mereka yang cepat marah dan lambat menunaikan hak, ketahuilah yang terbaik adalah yang lambat marah dan cepat menunaikan hak, sedangkan yang terburuk adalah yang cepat marah dan lambat dalam menunaikan hak."


Al-Munawi mengatakan: “Perbedaan di antara manusia merupakan sesuatu yang dominan, perbedaan mereka dalam tabiat pun dapat dilihat. Barangsiapa yang mencari keluarga atau saudara yang segala kondisi mereka sama, maka dia mencari sesuatu yang mustahil.”


Harus jadi Pemaaf


Sesungguhnya Allah SWT telah memerintah Nabi-Nya SAW dalam bergaul dengan manusia dengan firman-Nya: 


"Jadilah pemaaf." (OS. Al-A'raf (7) : 199) 


Al-Allamah asy-Syinqithi menerangkan: "Yaitu: Ambillah akhlak manusia yang mudah dan kamu dapati kebaikan dari mereka tanpa beban apa pun. Adapun yang datang kepadamu selain itu maka maafkan dan ampuni."


Al-Allamah as-Sa'di berkata: “Sesuatu yang sepantasnya, dilakukan dalam bergaul dengan manusia adalah memaafkan. Yaitu, suatu amalan atau akhlak yang diterima oleh diri mereka dan mudah dilakukan, sehingga tidak membebani mereka sesuatu yang tidak diterima oleh tabiat mereka.”


Bermuamalah sesuai Tabiat


Dahulu Rasulullah SAW telah mengetahui hakikat perbedaan tabiat tersebut, sehingga beliau memperhatikan perkara ini dengan perhatian lebih. Kita dapati beliau bergaul dengan manusia dengan kenyataan tersebut. Sunnah nabawiyah sangatlah melimpah dengan contoh-contoh yang berkaitan dengan pembahasan ini, sebagai contoh antara lain: 


1. Sebuah riwayat yang datang dalam hadits Aisyah ra, ia berkata: 


“Ada seorang lelaki meminta izin kepada Rasulullah SAW, tatkala beliau melihatnya spontan berkata: “Alangkah buruknya orang ini”, namun tatkala orang tersebut duduk, wajah Nabi SAW justru berseri-seri menampakkan kesenangan, menyapanya. Tatkala orang tersebut pergi, Aisyah bertanya: Wahai Rasulullah, ketika engkau melihat orang tersebut engkau mengatakan begini dan begitu, tapi setelah itu engkau malah menampakkan wajah gembira dan berbuat ramah


padanya.” Rasulullah SAW pun berkata: “Wahai Aisyah, pernahkah kamu mendapati saya bertindak keji? Sesungguhnya seburuk-buruk manusia di sisi Allah SWT adalah orang yang ditinggalkan oleh orang-orang karena takut terkena bahaya dari keburukannya.”


Dalam hadits ini ada anjuran untuk bersikap lunak terhadap orang yang memiliki lidah tajam, hati yang keras, selama hal itu tidak mengarah pada membenarkan kebatilan. 


Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar: “Hadits ini merupakan pokok dalam al-Mudarah.”


Al-Qurthubi berkata: “Dalam hadits ini terdapat kebolehan ghibah yang dilakukan terang-terangan karena kefasikan atau kekejian dan semisalnya, termasuk kecurangan dalam hukum, menyeru pada kebid'ahan, dan juga diperbolehkan bersikap lunak kepada mereka, sebagai bentuk berlindung dari gangguan mereka selagi tidak menunjukkan sikap mudahanah dalam agama Allah SWT .” 


Lanjut beliau: “Perbedaan antara mudarah dan mudahanah adalah mudarah mengorbankan dunia untuk maslahat dunia atau agama atau kedua-duanya, hal ini hukumnya mubah, dan terkadang bisa dianjurkan. Adapun mudahanah tercela dan haram yaitu meninggalkan agama untuk keperluan dunia, Nabi SAW hanya mengorbankan dunianya dengan berbuat baik dalam bergaul (dengan orang yang disebutkan dalam hadits di atas -pent), lemah lembut dalam berbicara dengannya, dan wajah yang berseri-seri, dan beliau tidak memujinya dengan suatu ucapan apa pun, sehingga ucapan beliau tidak bertentangan dengan perbuatan beliau: karena ucapan beliau pasti benar, dan perbuatan beliau kepada orang tersebut termasuk bergaul dengan baik bersama makhluk.


Muhammad bin Hanafiyah berkata: “Bukanlah dikatakan orang yang bijaksana apabila seseorang tidak bergaul dengan baik kepada orang yang mau tidak mau harus bergaul dengannya: hingga Allah menjadikan untuknya kelapangan dan jalan keluar.” 


Al-Allamah Ibnul Gayyim telah mengumpamakan hal ini dengan: “Bergaul dengan seseorang layaknya suatu penyakit dengan berbagai tingkatan dan ragamnya, kuat dan lemahnya. Di antara mereka ada yang seperti penyakit kronis dalam bergaul dengannya. Di antara mereka ada yang semacam penyakit yang menyusahkan orang yang bergaul dengannya, jika ditinggal tidak lagi terasa sakit tersebut. 


Di antara mereka ada yang seperti penyakit demam, yaitu orang yang repot dan suka membenci, tidak dapat berbicara dengan sesuatu yang berfaidah, dan engkau tidak dapat diam agar dia mengambil faidah darimu, dan dia tidak mengetahui dirinya sehingga menempatkannya pada posisinya. Bahkan bila ia berbicara pembicaraannya bagaikan tongkat yang menimpa hati para pendengarnya, tetapi ia merasa bangga dan senang dengan perkataanya, setiap kali ia berbicara ia membuat sesuatu yang baru, ia mengira seolah-olah itu parfum yang mengharumkan majelis. Jika diam menyebabkan batu penggiling berat sebelah dan tidak dapat dibawa, tidak pula dapat diseret sekali pun di atas tanah. 


Di antara kesusahan dunia bagi seorang hamba adalah jika diberi cobaan dengan salah satu bentuk di atas, ia harus bergaul dan membaur dengan mereka, maka hendaklah dia bergaul dengan baik hingga Allah menjadikan untuknya pintu keluar. Selesai perkataan beliau dengan sedikit perubahan.


2. Dalam hadits al-Miswar bin Makhramah ra beliau berkata : 


“Didatangkan sejumlah pakaian luar dari sutera yang berkancing emas kepada Rasulullah SAW, maka beliau pun membagi-baginya kepada beberapa shahabat beliau dan menyisakan satu potong pakaian untuk Makhramah. Tatkala Makhramah datang, Rasulullah SAW berkata kepadanya: “Aku sembunyikan ini untuk bagianmu.” 


Hadits diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari melalui jalur Ayyub (beliau pembesar Atba' Tabi'in, lihat: Tahdzibut Tahdzib :1/375 dan Tagrib: 152) dari Abdullah bin Abu Mulaikah, dari Miswar. Dan Ayyub berkata dengan pakaiannya, bahwa dalam akhlaknya terdapat sesuatu yang tidak baik. Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan: “Maknanya adalah Ayyub memberi isyarat dengan pakaiannya untuk menampakkan kepada semua orang yang hadir saat itu bagaimana yang dilakukan oleh Nabi SAW tatkala berbicara kepada Makhramah. Dan disebut lafadz ucapan sedangkan yang diinginkan adalah perbuatan, dan ucapan yang dikatakan tentang Makhramah adalah karena akhlaknya yang kasar dan karenanya mulutnya pun kotor.” 


Maka renungkanlah bagaimana Rasulullah SAW menyisihkan satu pakaian yang diberi kancing dengan emas untuk Makhramah: tujuannya adalah untuk melunakkan akhlaknya yang keras. Siapa pun yang diberikan ujian dengan bergaul dengan manusia yang memiliki tipe seperti ini hendaklah dia melunakkannya seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah tersebut, hal itu karena hati manusia telah diciptakan dengan mencintai orang yang berbuat baik kepadanya.


3. Hadits yang datang melalui jalur Jabir bin Salim ra, beliau berkata: 


"Aku datang kepada Rasulullah SAW sedangkan beliau sedang duduk dengan berbalut mantel beliau, sementara rumbai mantel tersebut berada pada kedua telapak kaki beliau. Maka saya bertanya: Siapa di antara kalian yang bernama Muhammad atau Rasulullah? Maka beliau berisyarat kepada diri beliau sendiri, saya pun bertanya: wahai Rasulullah, sesungguhnya saya berasal dari kampung pedalaman, dan dalam diriku terdapat watak keras yang ada pada orang-orang pedalaman, maka berikanlah wasiat kepadaku. Beliau pun bersabda: “Jangan sekali-kali meremehkan kebaikan apa pun walau sedikit, sekali pun itu berupa engkau menemui saudaramu dalam keadaan wajahmu berseri-seri, dan sekali pun dengan kamu menuangkan embermu ke dalam wadah orang yang mencari air. Apabila ada orang yang mencaci dirimu dengan sesuatu yang ia ketahui darimu, maka jangan kamu balas dengan mencacinya dengan sesuatu yang kamu ketahui tentangnya, karena dengan itu kamu akan mendapatkan pahalanya, dan dia mendapatkan dosanya. Dan jangan menjulurkan kain sarungmu (melebihi mata kaki), karena menjulurkan kain sarung termasuk bentuk kesombongan, dan Allah tidak mencintai kesombongan, dan jangan pernah mencela seorang pun.” Jabir ra berkata: “Maka setelah itu saya tidak pernah mencela seorang pun, tidak pula kambing, dan tidak juga unta.” Rasulullah SAW telah memberi wasiat kepada shahabat tersebut dengan sejumlah wasiat yang sesuai dengan tabiatnya yang keras. Demikianlah yang selayaknya diperhatikan oleh seorang Muslim dalam menghadapi tabiat orang-orang, berbicara kepada setiap orang dengan perkataan yang sesuai dengan tabiatnya. 


Tabiat Laki-Laki dan Perempuan


Di antara perbedaan-perbedaan tabiat yang sepantasnya diperhatikan adalah perbedaan tabiat antara laki-laki dan wanita. Tabiat seorang laki-laki adalah tabiat kuat yang siap bekerja dan bertanggung jawab. Sedangkan tabiat seorang wanita adalah tabiat lembut yang sesuai dengan sifat keibuan dan mengasuh. Karenanya ada sebuah petunjuk dari Nabi SAW agar memperhatikan tabiat mereka. Di antara riwayat tentang hal itu dari beliau adalah: 


1. Hadits yang diriwayatkan oleh Anas ra bahwa Nabi SAW datang kepada para isteri beliau, lalu ada seorang yang dikenal dengan nama Anjasyah.


Rasulullah berkata: 


“Celaka engkau wahai Anjasah, pelan-pelanlah dalam mengatur terhadap Qawarir (gelas kaca)”


Imam Nawawi berkata: “Para ulama berkata: beliau menyebut para wanita dengan qawarir, beliau menyerupakan dengan gelas kaca, karena lemahnya dan mudah pecah. 


2. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra bahwa 


Rasulullah SAW bersabda:


“Sesungguhnya seorang wanita diciptakan dari tulang rusuk yang tidak akan pernah lurus dalam satu jalur. Apabila kamu bersenang-senang dengannya maka kamu bersenang-senang sedangkan ia bengkok, dan bila kamu meluruskannya maka kamu akan memecahkannya, dan memecahkannya berarti mentalaknya.” Dan dalam hadits Samurah ra, Nabi SAW bersabda: 


“Sesungguhnya seorang wanita diciptakan dari tulang rusuk, Jika kamu ingin meluruskan tulang rusuk maka kamu memecahkannya, maka bersikap haluslah kepadanya kamu akan bisa hidup dengannya.” 


Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk bersikap halus untuk menarik perhatian, dan melunakkan hati. Dalam hadits tersebut terdapat cara menyiasati wanita, yaitu dengan memaafkan hal-hal yang terjadi dari mereka, bersabar terhadap kebengkokan mereka. Sesungguhnya orang yang menginginkan lurusnya mereka niscaya tidak akan dapat mengambil manfaat dari keberadaan mereka. Padahal seorang manusia pasti memerlukan seorang wanita yang ia merasa tenang kepadanya dan ia jadikan wanita sebagai penolong dalam hidupnya, seolah-olah beliau berkata: (bersenang-senang dengan wanita) mengambil manfaat dari wanita tidak akan sempurna jika tidak bersabar atasnya.” 


Al-Hafizh juga berkata: "Bukan berarti membiarkannya dalam keadaan bengkok dengan membiarkannya mengarah kepada perbuatan kemaksiatan atau meninggalkan kewajiban. Tetapi yang dimaksud adalah membiarkan wanita tersebut dalam kebengkokannya dalam perkara-perkara yang mubah."


3. Hadits yang diriwayatkan oleh Anas ra bahwa 


Nabi SAW bersabda: 


“Seandainya bukan karena Hawa maka seorang wanita tidak akan mengkhianati suaminya”.


Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Di dalam hadits ini terdapat hiburan bagi laki-laki pada apa yang terjadi dari istri-istri mereka dengan apa yang terjadi pada ibu mereka yang pertama (Hawa). Semua itu berasal dari tabiat mereka, tidak boleh gegabah dalam mencela apa yang terjadi pada dari mereka dari sesuatu yang tidak disengaja atau jarang dilakukan. Hendaknya para wanita tidak membiarkan dirinya berlarut-larut di dalamnya, namun hendaknya mengatur dirinya dan memerangi hawa nafsunya."


Barangsiapa yang mengamalkan wasiat-wasiat nabawi ini, maka ia akan bahagia bersama keluarganya, dan ketenangan turun ke dalam rumahnya. Adapun orang yang menyimpang darinya, maka ia akan berhadapan dengan berbagai macam kesusahan, dan kerisauan akan selalu menghampirinya. Yang akan terjadi bersama keluarganya adalah keluhan dan kebosanan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasulullah SAW Bermuamalah dengan Akhlak yang Mulia