Rasulullah SAW Bermuamalah dengan Akhlak yang Mulia
Tidak bisa disangsikan jika bergaul dengan akhlak yang bagus adalah factor paling besar untuk menumbuhkan rasa kasih-sayang, pertemanan, menghilangkan perpecahan, dan menghapus pertikaian. Andaikan akhlak yang bagus bersosok manusia niscaya lebih indah dibanding rembulan saat malam purnama.
Dan andaikan akhlak yang bagus berbentuk minuman, pasti dia lebih menyegarkan dibanding hujan dari langit. Sebenarnya kamu bisa melihat orang yang dikenal berakhlak keras, bermoral jelek, pergaulannya kaku, mukanya tak pernah menggembirakan, ucapannya kasar, tetapi ada pengaruhnya dalam dirinya.
Bergaul dengan Kelembutan
Bila adab seorang manusia baik maka beberapa orang yang mendekatinya dan sedikit orang yang memusuhinya, sehingga beberapa masalah yang sulit jadi gampang, dan hati-hati yang murka jadi lunak dengannya.
Ibnul Qayyim berkata: "Tidak ada yang lebih berguna bagi hati terkecuali bergaul dengan manusia dengan kelembutan. Karena, bergaul dengan manusia dengan kelembutan jika dengan orang asing, maka kamu akan menumbuhkan kecintaannya padamu, dan jika dengan teman atau kekasih maka akan bertahan persahabatan dan kecintaan itu.
Atau jika ia seorang musuh dan orang yang suka membencimu, maka dengan kelembutanmu kamu bisa mematikan api permusuhannya, dan selamat dari keburukannya. Karena seberat-beratnya kamu berlaku lembut kepada orang semacam Itu masih lebih enteng daripada menelan pahitnya bahaya yang diakibatkan karena kamu berlaku keras kepadanya.
Rasululullah SAW sebagai orang paling depan dalam mengaplikasikan sikap ini, dan beliau seakan menjadi perhiasan yang dijunjung tinggi. Demikian karena beliau ialah seseorang yang berhias dengan sifat-sifat terpuji, karakter mulia, amal kebaikan yang tidak ada henti, akhlak yang indah, pergaulan yang baik, dan penciptaan yang mulia.
Bagusnya Akhlak Rasulullah SAW
Tidak seorang pun bisa melewati bagusnya akhlak beliau SAW, karena Allah SWT sudah memberikan adab kepada beliau dengan baik sekali. Allah SWT sudah mensucikan jiwa beliau. Allah berfirman:
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur." (OS. Al-Qalam (68): 4) Anas bin Malik ra berkata: "Nabi SAW ialah seorang manusia yang terbaik akhlaknya." Sa'ad bin Hisyam sebelumnya pernah berbicara ke Aisyah ra :
"Wahai Ummul Mukminin, beritahukan padaku mengenai akhlak Rasulullah. Aisyah juga kembali menanyakan: Tidakkah kamu membaca al-Our'an? Sa'ad menjawab: Ya. Lalu Aisyah menerangkan: "Sebenarnya adab Nabiyullah SAW ialah al-Qur'an."
Yang dimaksudkan ialah: Sebenarnya beliau beradab dengan adab-adab (yang ada dalam) al-Qur'an dan berakhlak dengan akhlaknya. Sehingga apa saja yang dipuji di dalam al-Qur'an tentu beliau rela dengannya, sedangkan apa pun itu yang dicela dalam al-Qur'an maka di situlah kemarahan beliau.
Dalam hadits lainnya, Abu Abdillah al-Jadali menanyakan ke Aisyah ra mengenai akhlak Rasulullah SAW, karena itu beliau menjawab:
Rasa Malu yang Dimiliki Rasulullah SAW
"Beliau bukan seseorang yang keji atau melakukan perbuatan keji, bukan juga seseorang yang berteriak-teriak di pasar, beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi beliau maafkan dan mengampuninya." Anas bin Malik ra berkata:
"Nabi SAW bukan seorang yang suka mencela, bukan seorang yang suka melakukan perbuatan keji, bukan juga seorang yang suka melaknat. Dulu jika beliau menyalahkan salah satu di antara kita beliau mengatakan: "Kenapa dahinya berlumur tanah."
Bahkan juga, karena kuatnya rasa malu yang ada pada dirinya SAW, beliau tidak memperlihatkan kepada seorang pun apa yang tidak dia sukai. Dan ketidaksukaan itu bisa dikenali di wajah beliau. Abu Sa'id al-Khudri ra berkata:
"Rasulullah lebih mempunyai karakter malu dibanding malu yang ada pada orang gadis pingitan, bila memandang sesuatu yang tidak dia sukai, maka kita bisa mengetahuinya dari raut muka beliau." Allah SWT berfirman mengenai Nabi-Nya SAW :
"Maka berkat rahmat Allah kamu (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Kiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar pastilah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karenanya maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu." (OS. Ali Imran (3) : 159)
Pemimpin sebagai Panutan
Syaikh As-Sa'di ra berkata: "Akhlak yang bagus pada seorang pemimpin agama bisa menarik manusia dan menyeru mereka untuk memeluk agama Allah, disamping dia pun memperoleh sanjungan dan pahala khusus. Dan akhlak yang jelek pada pemimpin agama mengakibatkan manusia lari dari agama dan mereka membenci agama itu, disamping iapun mendapatkan kecaman dan hukuman khusus.
Jika seorang Rasul yang terjaga dari kekeliruan SAW, Allat SWT sudah berkata ke beliau dalam firman-Nya di atas, lalu bagaimanakah dengan orang selain beliau?! Bukankah suatu hal yang paling wajib dan terpenting ialah mencontoh akhlak beliau yang mulia dengan bergaul kepada manusia sebagaimana cara beliau SAW bergaul: yakni berupa kelembutan, akhlak yang bagus dan kelembutan hati, dalam rangka menjalankan perintah Allah dan mengajak para hamba-Nya untuk memeluk agama Allah.
Rasulullah SAW, sudah menerangkan salah satu tujuan beliau diutus:
"Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."
Cara Melihat Keaslian Akhlak Seseorang
Implementasi adab yang bagus lebih ditegaskan untuk dilaksanakan terhadap beberapa orang yang bergaul dan bersahabat lebih banyak dalam waktu yang lama, misalkan keluarga dan anak-anak. Barangsiapa yang ingin mengetahui, apa akhlaknya sudah menjadi tabiat atau mungkin masih terpaksa?
Hendaklah dia menyaksikan akhlaknya saat bersama keluarganya. Pada waktu itu nampaklah akhlak yang sebetulnya, mana yang berpura-pura lembut dan mana kelembutan yang hakiki: karena beberapa manusia mudah berinteraksi secara baik dengan orang umum dan beberapa teman dekatnya saja, tetapi gagal dalam mengaplikasikan interaksi yang bagus kepada keluarganya sendiri.
Bisa saja dia adalah seseorang yang gampang tertawa ketika bersama orang di luar, tetapi benar-benar murung saat dengan keluarganya. Ini tentu saja berseberangan dengan panduan Nabi SAW. Beliau ialah seorang yang indah dalam bergaul, selalu terlihat berseri-seri, bercanda dengan keluarga beliau, dan berlaku lembut kepada mereka. Beliau SAW bersabda:
"Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian ialah yang paling baik terhadap istri-istri kalian."Beliau SAW juga pernah bersabda:
"Sebaik-baik kalian ialah yang paling baik kepada keluarganya, dan saya adalah yang terbaik bagi keluargaku."'
Asy-Syaukani berkata: "Dalam hadits itu ada peringatan pada manusia yang berkedudukan tinggi dalam kebaikan, dan yang paling memiliki hak disifati dengannya ialah orang yang paling baik untuk keluarganya. Karena keluarga adalah orang-orang yang paling memiliki hak mendapatkan perhatian, akhlak yang bagus, perlakuan yang bagus, paling memiliki hak mendapatkan manfaat, dan selamat dari bahaya.
Jika seorang sudah melakukan perbuatan begitu maka dia sebagai manusia yang terbaik, dan jika kebalikannya, karena itu dia adalah manusia terburuk. Begitu banyak manusia yang terjerumus dalam jurang tersebut; kamu bisa menyaksikan seorang jika berjumpa dengan keluarganya menjadi manusia yang jelek akhlaknya, paling kikir, paling sedikit kebaikannya.
Tetapi, saat berjumpa dengan orang asing selain keluarganya karakternya menjadi lunak, akhlaknya menjadi baik, jadi pemurah hati dan banyak kebaikannya. Tidak bisa disangsikan jika orang yang melakukan perbuatan demikian sebenarnya dia tidak mendapatkan petunjuk dan menyeleweng dari jalan yang lurus. Kita meminta keselamatan kepada Allah SWT.
Sebab Rasulullah SAW Dicintai
Bicara mengenai kebaikan akhlak Rasulullah SAW pada manusia dan keluarganya sangat panjang. Hadits-hadits yang berkaitan dengannya banyak dan berlimpah, tetapi yang dimaksudkan ialah jika akhlak beliau SAW yang mulia menjadi sebab kecintaan manusia kepada beliau, diterimanya dakwah beliau, dan berkumpulnya manusia di sekitar beliau.
Akhlak yang bagus menghasilkan buah berlipat-lipat untuk orang yang mengaplikasikannya saat bergaul dengan manusia. Ia mengharap memperoleh ganjaran dari sisi Allah dan mencari kehidupan akhirat dan tidak menginginkan balasan, sanjungan atau perkataan terima kasih dari manusia.
Dengan itu seorang bisa hidup dengan damai, jiwa menjadi tenang, dan sedikit mendapat kecaman untuk orang yang kurang sempurna melakukannya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: "Kebahagiaan dalam berinteraksi dengan makhluk ialah saat kamu bergaul dengan mereka tulus karena Allah, yakni menginginkan imbalan dari Allah, bukan menginginkan imbalan dari mereka, takut kepada Allah, bukan takut kepada mereka.
Melakukan perbuatan baik kepada mereka dengan berharap pahala dari Allah, bukan melakukan perbuatan baik karena mencari imbalan dari mereka, menahan diri tidak untuk melakukan perbuatan zhalim kepada mereka dalam rangka takut kepada Allah, bukan takut kepada manusia."?!
Beliau berkata: "Seseorang yang memiliki ilmu tidaklah memandang dirinya mempunyai hak yang ada pada orang lain, tidak merasa paling utama dibanding orang lain, karena itu dia tidak mencemooh, tidak menuntut, dan tidak juga berselisih.

Komentar
Posting Komentar